Month: April 2018

Pemerintah Bakal Kembalikan Pilkada ke DPRD?

Semenjak Indonesia mengalami pemilu langsung pada tahun 2004, terhitung sudah hampir 15 tahun lamanya rakyat negeri ini memilih para pemimpin Raja poker melalui suara mereka masing-masing. Hanya saja sistem pilkada langsung ini justru tengah dikaji ulang oleh para pimpinan DPR RI dan pemerintah. Melalui Mendagri Tjahjo Kumolo, pemerintah dan petinggi DPR melakukan pertemuan untuk mengevaluasi pelaksanaan pilkada langsung.

 

Dalam pertemuan itu, pemerintah dan DPR sepakat jika sistem pilkada langsung yang sudah berjalan tiga periode Presiden itu akan kembali dikaji. “Jadi terkait pilkada langsung dalam sistem demokrasi kita, akhir-akhir ini setelah kita evaluasi ternyata banyak masalah yang dihadapi. Kita juga meminta masyarakat melihat kembali apakah pilkada langsung ini memberi manfaat kepada mereka atau sebaliknya,” ungkap Bambang Soesatyo alias Bamsoet, Ketua DPR RI seperti dilansir detikcom.

 

Meskipun ada wacana membenahi sistem pilkada langsung, Mendagri menegaskan kalau pemerintah dan penegak hukum tetap menjamin kelancaran proses Pilkada serentak di tahun 2018 ini. “Bagaimana seseorang mau maju pilkada, habisnya saja kalau jujur kan mencapai puluhan miliar rupiah. Dan itu nggak sesuai dengan apa yang didapat jadi meskipun tokoh yang dipilih amanah, bisa terlibat korupsi. Intinya seperti itu. Tapi ini baru tahap diskusi dan baru direspons KPK.”

 

DPR RI Ingin Uang Negara Untuk Rakyat

 

Senada dengan pernyataan Mendagri, Bamsoet menilai kalau kegiatan politik memang membutuhkan biaya fantastis dalam demokrasi Indonesia dan itu malah memicu korupsi. Tak heran kalau akhirnya Bamsoet menilai jika ada kemungkinan pilkada dikembalikan kepada DPRD sehingga KPK dan aparat hukum bisa lebih mudah mengawasinya. Lebih luas lagi, wacana ini bisa mengurangi beban biaya politik.

 

Menurut Bamsoet, anggaran negara senilai triliunan rupiah telah digelontorkan untuk pilkada langsung. “Mendagri bilang kalau negara mengeluarkan puluhan triliun untuk pilkada langsung. Jika itu dialihkan untuk kebutuhan rakyat Indonesia, mungkin akan lebih bermanfaat. Meskipun memang wacara pilkada perwakilan di DPRD ini adalah wacana pribadi. Karena memang awalnya saya mendapat keluhan di berbagai daerah mengenai dampak yang ditimbulkan pilkada langsung yang bisa merusak moral masyarakat,” papar pria yang menggantikan Setya Novanto ini.

 

Meskipun begitu, pria yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar ini tetap menerima aspirasi dari masyarakat mengenai wacana penghapusan pilkada langsung. Menurut Bamsoet, jika memang banyak yang menilai pilkada langsung berefek buruk maka akan dilakukan evaluasi menyeluruh.

 

Gerindra Dukung DPR Pilih Pemimpin Daerah

 

Kendati masih sekedar wacana, rupanya pengembalian sistem pilkada langsung ke DPRD mendapat dukungan dari Martin Hutabarat. Anggota Komisi I DPR RI dari fraksi partai Gerindra ini mengapresiasi niat pemerintah yang akan mengkaji ulang pilkada langsung. Menurut Martin, selama ini pilkada langsung lebih banyak memberikan dampak negatif seperti korupsi, upeti hingga pungli liar yang membuat banyak Gubernur, Bupati dan Walikota terciduk KPK.

 

“Konstitusi di Indonesia tak mewajibkan pemilihan langsung sebagai ajang memilih pemimpin. UUD 1945 hanya mengatakan bahwa pemilu haruslah demokratis. Karena itu kepala daerah yang dipilih anggota-anggota DPRD hasil pemilu juga adalah demokratis. Sehingga saya menyarankan supaya pemerintah mengevaluasi hasil pilkada serentak  yang dilakukan 27 Juni 2018. Kalau hasilnya lebih buruk daripada pilkada langsung sebelumnya, saya sarankan pemerintah secepatnya mengajukan usul revisi UU untuk kembali ke pilkada tidak langsung,” papar Martin panjang lebar. Jadi bagaimana? Apakah anda setuju jika pilkada dikembalikan ke DPRD saja?


Persib yang Berlini Solid Kalahkan Mitra Kukar

Solidnya lini pertahanan dari kesebelasan Persib Bandung menjadi kunci mereka bisa meraih 3 poin perdana pada Liga 1 2018 setelah mereka mengalahkan Mitra Kukar dalam pekan ketiga ajang Liga 1 2018 yang dihelat di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, hari Minggu (8/4/18).

Rahasia Kemenangan Persib Bandung

Kehadiran sang pelatih Roberto Carlos Mario Gomez sungguh-sungguh menjadi faktor kemenangan klub yang dijuluki Maung Bandung tersebut. Persib sendiri meraih kemenangan togel online pertamanya pada Liga 1 musim ini dalam debut Mario Gomez pada Liga 1 2018.

Dalam pertandingan itu, Persib pasalnya tampil seperti biasanya ketika melakoni laga kandang. Mereka sendiri menyerang pertahanan lawan sejak menit-menit awal pertandingan.

Yang membedakan permainan Persib kali ini dengan 2 laga yang sebelumnya, khususnya ketika laga kandang melawan PS TIRA adalah kedisiplinan barisan pertahanan juara dari Liga Indonesia sebanyak 2 kali itu.

Saat melawan Mitra Kukar, Mario Gomez berani dengan memainkan 4 debutan pada musim ini. Empat debutan tersebut adalah Adi Idrus, Indra Mustafa, Al Amin Fisabilah, dan juga Muhammad Natsir sang kiper. Ardi, Al Amin dan Indra adalah pemain yang melakoni debut perdananya sebagai pemain Persib dalam pertandingan tersebut.

Di jantung pertahanan Persib, Fisabillah pasalnya tampil solid dengan berduet dengan Malisic. Lalu performa keduanya membuat pemain-pemain menyerang sang lawan, Mitra Kukar, seperti Fernando Ortega, Hendra Bayauw, serta Dedy Hartono yang tidak hanyak berkutik. Kiper Muhammad Natsir pun nyaris tak berkutik di babak pertama laga ini.

Sementara itu, dua fullback, Ardi Idrus dan Henhen Herdiana, rajin membantu seragan. Namun meski demikian, keduanya juga tak lupa untuk kembali turun ketika kehilangan bola.

Bahkan Mitra Kukar tetap tak mampu menjebol gawang milik Persib Bandung saat Malisic ditarik keluar dan akhirnya digantikan debutan yang lainmya yakni Indra Mustafa pada menit ke-59 karena dirinya mengalami cedera pendarahan di hidung.

Bermain dengan Sangat Baik

Hal-hal itu sepertinya menunjukkan Persib sudah mendapatkan komposisi yang sangat tepat di lini belakang. Sesuatu yang tak ditemukan di 2 pertandingan yang sebelumnya. Dikarenakan rapinya lini pertahanan, lini serang dari Pangeran Biru bisa leluasa menggempur benteng pertahanan dari Mitra Kukar.

Sementara itu, di lini tengah, Ghozali Siregar akhirnya bisa mengambil alih peran dari Febri Hariyadi pada sisi kiri permainan dengan sangat baik. Winger dari Timnas Indonesia tersebut harus absen karena dirinya baru saja pulih dari demam.

Kecepatan dan juga umpan-umpan lambung dari Ghozali dengan kedua kakinya sungguh menjadi salah satu senjata Maung BamdunBandung melawan Mitra Kukar. Pemain senior, Supardi Nasir yang mana kembali lagi dimainkan di posisi sayap kanan juga tak kalah agresifnya. Seandainya lebih tenang lagi, Supardi malahan bisa membuat Persib Bandung unggul lagi setelah berhadapan dengan kiper Yoo Jaehoon pada babak pertama. Sayangnya, tendangannya masih bisa diblok kaki kiri oleh Jaehoon.

Jonathan Bauman pemain asing di Persib Bandung juga tak kalah mengesankannya saat mencoba membongkar benteng pertahanan Naga Mekes. Pemain asal Argentina tersebut tak saja memanjakan Ezechiel N’Douassel di lini depan dengan umpan-umpannya yang terukur, namun juga pemecah kebuntuan.

Gol pembuka Persib di menit ke-53 lahir karena kejelian Bauman yang mampu memanfaatkan bola liar sundulan dari N’Douassel yang juga memanfaatkan sepak pojok dari Supardi. Sementara itu gol kedua mereka tercipta karena tendangan bebas dari Oh In Kyun yang mana membentur pagar pemain Mitra Kukar pada menit ke-61.


Lima Film Legendaris Aktor Senior Deddy Sutomo

Sekarang ini dunia perfilman Indonesia sedang dilanda kabar duka karena aktor senior legendaris Deddy Sutomo, meninggal dunia pada hari Rabu (18/4) pagi. Di usia ke-76 tahun, Deddy menghembuskan nafas terakhirnya.

Nama aktor yang berasal dari Jakarta itu telah lama dikenal di dunia perfilman Indonesia sejak era 1970an. Semenjak itu, Deddy terus bergelut di dunia seni peran sampai akhir hayatnya. Di tahun 2015 kemarin, ia bahkan meraih penghargaan sebagai Aktor Utama Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2015 berkat perannya sebagai Mahmud di dalam film berjudul Mencari Hilal.

Deddy pun tercatat telah membintangi kurang lebih 44 judul film dan juga 2 serial TV. Di antara puluhan film yang telah dibintanginya, ada 5 buah judul film yang cukup ikonis dan legendaris yang pernah dibintanginya. Di bawah ini ada 5 judul film yang berhasil membuat namanya melambung.

Mencari Hilal (2015)

Mencari Hilal menceritakan Mahmud (Deddy Sutomo) yang tengah berjuang menerapkan perintah agama yang dianutnya, agama Islam. Selama ia hidup, ia terus berdakwah supaya orang-orang percaya bahwa Islam adalah solusi masalah hidup.

Di dalam film ini kualitas akting dari Deddy tak diragukan lagi. Karena aktingnya yang ciamik, ia mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Utama Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2015.

Tanda Tanya (2011)

Tanda Tanya adalah film yang menceritakan konflik agama yang terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Di dalam cerita tersebut terdapat 3 keluarga yang  memiliki agama yang berbeda-beda. Dan di film ini Deddy Sutomo memerankan pastor gereja. Beberapa kali juga Deddy tampil sebagai seorang pastor yang tengah memimpin doa dan ibadah.

Selain tayang di Indonesia, film ini juga ditayangkan di beberapa negara. Film Tanda Tanya ini berhasil mendapatkan nominasi di 9 kategori Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia 2011.

Tutur Tinular III (1992)

Tutur Tinular III yang tayang pada tahun 1992 itu menceritakan Kerajaan Majapahit di Indonesia. Arya Dwipangga yang diperankan oleh Baron Hermanto mengacaukan Majapahit guna membalas dendam pada Kamandanu yang diperankan oleh Sandy Nayoan. Pertikaian yang besar akhirnya terjadi setelah kekacauan itu.

Setelah itu, Empu Lungga yang diperankan oleh Deddy merawat Kamandanu bersama dengan anaknya. Empu Lungga dalam cerita ini berhasil menyembuhkan Kamandanu dengan kemampuannya.

Buaya Putih (1982)

Pada tahun 1982, sebuah film tentang seekor buaya putih yang ada di sungai di mana buaya itu sangat suka menenggelamkan orang ke dasar sungai dirilis. Juleha yang diperankan oleh Yatie Octavia adalah anak dari Kadir yang diperankan oleh Syamsuri Kaempuan. Malangnya, ia menjadi salah satu korban buaya putih tersebut.

Beruntungnya, Komar (Deddy Sutomo) datang untuk menolong Juleha. Komar di dalam film ini diceritakan sebagai pawang buaya putih yang akhirnya mengetahui bahwa buaya putih tersebut ternyata adalah siluman buaya.

Pandji Tengkorak (1971)

Pandji Tengkorak menceritakan seorang yang bernama Kebobeok yang diperankan oleh Maruli Sitompul yang menyamar dengan mengenakan topeng tengkorak untuk mencuri pedang pusaka dari seorang guru silat.

Dewi Bunga togel hongkong yang diperankan oleh Shan Kuang Ling Fung menjadi seorang murid guru. Ia ingin membalas dendam pada Pandji Tengkorak. Dan dalam misinya membalas dendam itu, Dewi malah dikeroyok oleh anak buahnya Keboboek. Pandji Tengkorak yang asli yang diperankan oleh Deddy Sutomo langsung membantu Dewi.

Pandji Tengkorak sendiri menjadi salah satu film yang berhasil mendongkrak nama Deddy di dunia perfilman.