Malaysia baru-baru ini mengumumkan kalau utang negara mereka mencapai 1,08 triliun ringgit (sekitar Rp 3.837 triliun). Setelah pergantian Perdana Menteri dari Najib Razak menjadi Mahathir Mohamad, langkah tegas pun dilakukan sang pemimpin baru. Meskipun pada dasarnya, Mahathir bukanlah pemimpin baru Malaysia karena dirinya pernah jadi petinggi Negeri Jiran itu pada tahun 1981.

 

Di awal pemerintahannya kembali, Mahathir langsung membuat gebrakan untuk sesegera mungkin melunasi seluruh hutang Malaysia. Langkah awal yang dilakukan pria berusia 92 tahun itu adalah memotong gaji pokok seluruh menteri sebesar 10 persen demi membantu keuangan negara, seperti dilansir Channel News Asia.

 

Mengutip situs parlemen Malaysia, saat ini gaji bulanan jajaran pemerintah Malaysia yakni Perdana Menteri mencapai 22.827 ringgit (sekitar Rp 81,3 juta), Wakil Perdana Menteri ada 18.168 ringgit (sekitar Rp 64,7 juta). Lalu jajaran Menteri Kabinet sebesar 14.907 ringgit (sekitar Rp 53,1 juta) dan Wakil Menteri Kabinet menyentuh 10.848 ringgit (sekitar Rp 38,6 juta).

 

Hutang fantastis Malaysia ini terungkap pada Kamis (24/5) lalu lewat Lim Guan Eng, Menteri Keuangan Malaysia. Jumlah hutang triliunan ringgit ini mencapai 80,3 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia per 31 Desember 2017. Dan selama pemerintahan PM Najib, jumlah hutang itu sama sekali tidak diungkapkan ke publik.

 

Anggota Parlemen Malaysia Sumbangkan Gaji

 

Sadar akan tingginya hutang yang harus dilunasi Malaysia tampaknya membuat banyak anggota parlemen sadar. Salah satunya adalah Nga Kor Ming yang mewakili wilayah Teluk Intan. Kor Ming tanpa pikir panjang langsung menyumbangkan gaji pertamanya ke Kementrian Keuangan yang sebesar 16 ribu ringgit (sekitar Rp 56,4 juta). Malay Mail melaporkan bahwa Kor Ming adalah anggota parlemen dari Partai Tindakan Demokratik (DAP) yang merupakan anggota koalisi Pakatan Harapan pimpinan Mahathir.

 

Dalam jumpa pers, Kor Ming berpendapat bahwa pemerintahan Pakatan Harapan memang diwarisi beban hutang besar dari pemerintahan Najib. “Untuk melunasi hutang sebesar itu jelas tidak mudah. Karena nantinya setiap warga Malaysia termasuk bayi yang baru lahir dan para penyandang disabilitas harus menanggung 32 ribu ringgit (sekitar Rp 112,9 juta). Hutang besar ini karena praktek penyucian uang dan pengelolaan yang buruk di era sebelumnya.”

 

Warga Saling Donasi Bantu Malaysia Bayar Hutang

 

Tak mau ketinggalan, warga sipil Malaysia juga ingin ikut serta dalam pelunasan hutang negara. Adalah seorang perempuan sekaligus aktivis muda berusia 27 tahun bernama Nik Shazarina Bakti yang melakukan aksi penggalangan dana bernama Please Help Malaysia di situs gogetfunding.com. Lewat aksinya itu, Shazarina mengajak warga Malaysia dan dunia membantu mengurangi hutang negaranya. Dia pun menulis kisah rakyat Malaysia yang pernah rela menyumbangkan harta bendanya untuk Tunku Abdul Rahman yang pergi ke London demi mengumumkan kemerdekaan Malaysia.

 

Aksi penggalangan dana itu dilakukan hingga 31 Juli 2018 dengan target USD 100 ribu (sekitar Rp 1,4 miliar). Sampai Sabtu (26/5) kemarin sudah ada 92 pendukung raja poker dengan total dana yang masuk adalah USD 3.600 (sekitar Rp 50,8 juta). Karena dana yang masuk sudah cukup banyak, Shazarina sampai kaget bahwa akun PayPal miliknya sampai tak sanggup memprosesnya lagi. Dirinya pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang menjadikan aksi penggalangan dana ini jadi viral.