Deskripsi singkat: Demokrat yang dinilai abu-abu sekarang memiliki ‘kelamin ganda’ secara politik setelah AHY menemui Jokowi.

Bagaimana Arah Poltik ‘Kelamin Ganda’ Demokrat?

Publik dikejutkan dengan pertemuan AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) dengan Presiden Joko Widodo yang berlangsung di Istana Kepresidenan. Pertemuan itu, akhirnya memantik sebuah pertanyaan, mungkinkah Demokrat akan pindah koalisi?

Demokrat dan ‘Kelamin Gandanya’

Dalam Pilpres 2019 ini sudah bukan rahasia lagi bahwa Demokrat selama ini menjadi barisan partai pendukung Paslon nomor 02, Prabowo-Sandiaga Uno. Setelah pilpres rampung, kemudian Demokrat diprediksi bakal melakukan maneuver dan besar kemungkinannya akan merapat ke gerbong koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin.

Direktur Eksekutif Charta Politica, Yunarto Wijaya tidak heran apabila AHY, yang datang atas nama Demokrat, mulai melakukan gerakan merapat ke kubu Jokowi. Menurut dirinya, Demokrat juga dulunya terpaksa merapat ke koalisi Prabowo-Sandi karena saat itu pintu koalisi sudah ditutup oleh koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin.

Menurut Yunarto, sekarang ini Demokrat ingin melanjutkan komunikasi yang dulunya sempat terbangun untuk menjalin kerja sama. Yang membedakan adalah konteks kerja sama tak lagi untuk menghadapi kompetisi, namun demi untuk berada di dalam satu payung cabinet tahun 2019-2024.

Demokrat Ingin Gabung Jadi Bagian Kabinet

“Pertemuan antara AHY dan Jokowi tak ada yang aneh. Banyak yang menerka ujungnya bakal seperti ini apabila Jokowi menang,” imbuhnya.

Berdasarkan hitung cepat beberapa Lembaga survey, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul di atas Prabowo-Sandiaga. Akan tetapi, Prabowo-Sandi masih juga mengklaim bahwa togel hongkong mereka memenangkan Pilpres berdasarkan hasil perhitungan internal mereka yaitu Tim BPN (Badan Pemenangan Nasional). Yunarto pun menganggap bahwa Demokrat saat ini mengambil langkah yang tepat kalau mereka akhirnya memutuskan untuk bergabung menjadi bagian dari pemerintahan selanjutnya. Menurutnya, popularitas AHY bakal meningkat kalau menjadi anggota cabinet.

Dengan demikian, Demokrat bisa memanen AHY yang pastinya akan lebih popular untuk kontestasi Pilpres 20124. Setelah itu, tinggal AHY tinggal dipoles kembali dalam merangka meningkatkan popularitasnya dan elektabilitas.

Namun menurut Yunarto juga, Demokrat mesti berkaca dari sikapnya selama tahun 2014-2019. Diketahui jika dilihat-lihat lebih detail, Demokrat tak menjadi oposisi yang keras. Mereka pasalnya berada di tengah-tengah saat Gerindra dan PKS beradu narasi dengan koalisi pemerintah, khususnya PDIP.

Ketika Pemilu 2019 juga banyak kader Demokrat yang datang dari berbagai daerah yang malahan mendukung Jokowi-Ma’ruf. Ketua DPD Demokrat Jawa Timur, Sukarwo, adalah salah satunya. Padahal, Demokrat ada di anggota koalisi yang mengusung Prabowo-Sandi.

Sikap itu dinilai membuat Demokrat babak belur di Pemilu 2019 ini. Perolehan suara pilegnya, berdasakan hasil hitung cepat kemarin yang dilakukan oleh beberapa Lembaga survey menunjukkan bahwa Demokrat Cuma mendapat 7-8% suara saja. Diprediksi mereka berada di bawah PKS, PKB, dan juga NasDem.

“Sikap Demokrat selama ini, saya tidak ingin bilang seperti banci, tapi ya dua kelamin secara politik. Mau tidak mau batu loncatannya ya menjadi bagian dari cabinet,” ungkap Yunarto lagi. Ia menganggap bahwa Demokrat tak akan maksimal jika jadi oposisi pemerintahan Jokowi berikutnya. Popularitasnya tak akan jadi signifikan sampai tahun 2024 mendatang.

Menurutnya lagi, selama ini oposisi sudah identik dengan Gerindra dan PKS serta alumni 212 dan juga ormas-ormas Islam garis keras seperti FPI. Peran Demokrat tidak akan terlalu dilihat. “Makanya akan lebih terlihat adalah Gerindra dan PKS. Simbol oposisi kan bukan Demokrat,” ungkapnya.

Dengan merapat ke koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, Demokrat akan bisa mengembalikan popularitas dan elektabilitasnya di mata masyarakat Indonesia.